Data bukan sekadar berkas. Kebocoran data bukan sekadar kecelakaan teknis. Data adalah riwayat hidup, dalam arti paling harfiah. Nomor yang dipakai bertransaksi, alamat yang dipakai menerima kiriman, kata sandi yang membuka tabungan, wajah yang membuka kunci layar. Semua itu riwayat hidup, dan riwayat itu diambil, disimpan, lalu diperjualbelikan tanpa yang punya riwayat pernah tahu.
Situs ini tidak lahir dari kebutuhan pasar. Sebagian dasarnya adalah pertanyaan filsafat, pertanyaan lama yang sudah diajukan manusia jauh sebelum ada internet. Kami mencoba menjawabnya untuk kepentingan manusia hari ini, di kotak masuk WhatsApp, di formulir login, di layar telepon genggam. Tulisan ini bukan dokumentasi teknis. Ini pertanggungjawaban atas pilihan, kenapa situs ini dibangun seperti ini dan bukan seperti yang lain, dan pertanyaan apa yang bekerja diam-diam di balik setiap kotak isian, setiap tombol, setiap baris kode yang tidak pernah dilihat pengguna.
Ekstraksi selalu punya pola yang sama. Ambil sesuatu yang tidak dianggap bernilai oleh pemiliknya, karena ia terlalu dekat dan terlalu biasa untuk disadari sebagai aset. Lalu ubah jadi komoditas di tangan pihak yang punya alat untuk mengolahnya. Dulu pasir pesisir jadi rebutan tambang besi, air tanah jadi rebutan pabrik. Sekarang email, nomor telepon, riwayat pencarian, dan lokasi harian jadi rebutan pialang data dan penipu daring.
Bedanya cuma satu. Tambang kelihatan truknya datang. Ekstraksi data tidak kelihatan sampai kerugiannya muncul. Rekening terkuras. Identitas dipakai orang lain. Pesan phishing yang sudah tahu nama lengkap dan nomor rekening kita, karena data itu sudah lama bocor tanpa sepengetahuan kita.
Warga yang menahan tambang tidak menunggu diselamatkan. Mereka membangun pertahanan sendiri, dengan pengetahuan kolektif tentang tanahnya dan keberanian menyebut ekstraksi sebagai ekstraksi. Situs ini memindahkan logika yang sama ke ranah digital.
Filsafat sering dianggap urusan ruang kelas dan buku tebal, jauh dari kehidupan sehari-hari. Kami tidak sependapat. Setiap fitur di situs ini adalah usaha menjawab satu pertanyaan filsafat yang sudah lama diajukan, dan kini hadir di layar telepon genggam warga biasa, bukan lagi di ruang seminar.
Pertanyaan paling tua ada di fitur paling depan. Descartes menyebutnya keraguan metodis, meragukan segala sesuatu sampai ada yang benar-benar terbukti tidak bisa diragukan lagi. Fitur cek email dan cek tautan menjawab pertanyaan epistemologi itu untuk konteks yang sangat konkret. Anggap dulu sebuah pesan atau alamat berbahaya, baru dibuktikan sebaliknya. Ini bukan sikap paranoid. Ini metode. Warga yang percaya begitu saja pada tampilan sebuah pesan adalah warga yang paling gampang jadi korban, karena penipuan modern memang dirancang untuk terlihat meyakinkan.
Keraguan itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih dalam soal tampilan itu sendiri. Semiotika mempersoalkan relasi antara tanda dan yang ditandainya, dan penipu memahami relasi itu lebih baik daripada korbannya. Sebuah kata tidak pernah otomatis sama dengan kenyataan yang diwakilinya. Fitur Cek Tautan menjawab pertanyaan ini untuk kasus yang paling berbahaya di Indonesia hari ini, subdomain yang menyamar. Alamat seperti bca.co.id.verifikasi-akun.xyz menuliskan nama BCA di bagian depan, tapi yang sebenarnya mengontrol alamat itu adalah pemilik verifikasi-akun.xyz, bukan BCA. Situs ini mengajarkan satu kebiasaan berpikir, tanyakan siapa yang mengontrol, jangan berhenti pada apa yang tertulis.
Kalau tanda bisa berbohong, alat yang kita pakai untuk memeriksanya juga harus dipertanyakan. Filsafat teknologi punya jawaban yang tidak enak didengar produsen alat, desain tidak pernah netral, setiap pilihan rancangan membawa keberpihakan, sadar atau tidak. Alat kata sandi di situs ini menjawab pertanyaan itu lewat arsitektur, bukan lewat janji. Kata sandi diproses sepenuhnya di perangkat pengguna, tidak pernah dikirim ke server kami, bahkan tidak dalam bentuk terenkripsi. Kami tidak meminta dipercaya. Kami merancang sistem yang membuat pertanyaan "bisakah saya percaya mereka" jadi tidak relevan lagi, karena kata sandinya memang tidak pernah keluar dari tangan pemiliknya.
Arsitektur yang melindungi kata sandi berangkat dari keyakinan yang lebih besar soal apa itu data. Filsafat informasi kontemporer punya jawaban tegas, data adalah bagian dari identitas seseorang, bukan properti yang bisa dilepas begitu saja. Dari situ menyusul satu konsekuensi yang sering dihindari industri data. Kalau data adalah bagian dari diri, maka kebocoran data bukan cuma kerugian teknis, ia pelanggaran terhadap batas diri seseorang, setara dengan pelanggaran batas tubuh atau ruang privat mana pun. Situs ini menampilkan skor risiko dan jenis data yang terekspos untuk membantu orang memahami sejauh mana bagian dari dirinya sudah berpindah tangan tanpa izin, bukan untuk menakut-nakuti.
Keyakinan itu langsung berhadapan dengan satu keberatan yang paling sering diucapkan orang, saya tidak punya yang disembunyikan, jadi saya tidak perlu khawatir. Argumen ini gagal pada pijakan paling dasarnya. Kalau privasi cuma soal menyembunyikan kesalahan, kenapa orang paling jujur sekalipun tetap menutup pintu kamar mandi. Bukan karena ia bersalah. Privasi bukan soal bersalah atau tidak bersalah, privasi soal siapa yang berhak mengendalikan akses ke bagian mana dari hidup seseorang. Orang yang berkata "saya tidak punya yang disembunyikan" sebenarnya sedang menyerahkan kendali itu kepada pihak lain, tanpa pernah bertanya siapa pihak itu dan apa yang akan mereka lakukan dengannya. Itu bukan ketiadaan risiko. Itu penyerahan risiko yang tidak disadari sebagai penyerahan.
Kalau kendali atas data memang milik seseorang, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kendali itu bisa dipindahtangankan secara sah. Kant mengajarkan satu syarat, manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, tidak pernah sekadar alat untuk tujuan pihak lain. Dari syarat itu turun satu ukuran sederhana untuk menguji setiap persetujuan. Kalau sebuah persetujuan tidak bisa dibatalkan kapan saja, ia bukan persetujuan, ia jebakan yang menyamar sebagai persetujuan. Fitur pemantauan otomatis dirancang untuk lulus ukuran itu lewat dua mekanisme. Pemantauan baru aktif setelah pengguna mengklik tautan konfirmasi di emailnya sendiri, bukan begitu formulir dikirim. Dan setiap email berisi tautan yang, sekali diklik, langsung menghapus semua data tanpa perlu alasan apa pun.
Kendali pribadi atas data hanya berarti kalau publik juga tahu apa yang sedang dipertaruhkan, dan di sinilah pertanyaan bergeser dari individu ke publik. Keadilan epistemik bertanya siapa yang diberi akses pada pengetahuan, dan siapa yang tidak. Insiden kebocoran data adalah fakta publik yang menimpa jutaan orang. Menyembunyikannya di balik tembok berbayar hanya menguntungkan pihak yang ingin publik tetap buta pada risiko yang sedang mereka tanggung. Direktori kebocoran di situs ini terbuka untuk siapa saja, tanpa akun, tanpa biaya. Mengetahui bukan hak istimewa.
Tahu saja tidak cukup kalau tidak ada yang bisa ditagih pertanggungjawabannya. Filsafat politik selalu bertanya soal kekuasaan dan akuntabilitas, siapa yang punya kuasa dan siapa yang menanggung akibat bila kuasa itu disalahgunakan. Selama ini yang selalu diminta waspada adalah individu, jaga kata sandi, jangan klik sembarangan, laporkan bila curiga. Institusi yang menyimpan data ribuan orang jarang ditanya balik, seberapa sering data yang dipercayakan padanya justru bocor, dan seberapa sering kebocoran itu berujung akibat nyata bagi institusinya sendiri. Fitur cek domain organisasi membalik arah itu, sekecil apa pun perannya.
Dan tanggung jawab kolektif itu berujung pada satu pertanyaan terakhir, siapa yang berhak memproduksi pengetahuan itu sendiri. Basis data komunitas keamanan global seperti AlienVault OTX kuat untuk pola yang sudah lama beredar, tapi lambat mencatat modus khas Indonesia, dari undangan pernikahan berformat apk sampai catut nama bank lokal. Fitur pelaporan komunitas membuka ruang bagi siapa saja menandai sebuah alamat sebagai penipuan, dan laporan itu, setelah dikonfirmasi beberapa pelapor berbeda, langsung memengaruhi apa yang dilihat pengguna lain. Ini gotong royong dalam bentuk paling harfiah, pengetahuan yang dibangun bersama, bukan diwariskan satu arah dari satu sumber yang mengaku paling ahli.
Ada ekonomi yang hidup dari ketidaktahuan warga, dan ekonomi ini bukan kebetulan. Operator phishing butuh korban yang percaya begitu saja pada tampilan. Pialang data mengumpulkan lebih banyak dari yang mereka butuhkan, karena data berlebih murah untuk disimpan dan menguntungkan untuk dijual kembali. Institusi yang bocor jarang menanggung akibat sebanding dengan kebocorannya, karena denda hampir selalu lebih murah daripada investasi mencegah kebocoran itu terjadi.
Ini bukan kegagalan sistem. Ini sistem yang bekerja persis seperti dirancang, hanya saja dirancang untuk kepentingan yang berbeda dari kepentingan warga yang datanya dipertaruhkan. Yang paling berbahaya dari semua ini bukan penjahatnya. Yang paling berbahaya adalah ketidakpedulian yang dianggap normal, anggapan bahwa kebocoran data adalah ongkos hidup di zaman digital, bukan kegagalan yang bisa dan harus ditagih pertanggungjawabannya.
Ketidakpedulian itu bukan sikap netral. Itu keberpihakan diam-diam kepada pihak yang diuntungkan oleh kebocoran itu sendiri.
Situs ini tidak berjanji membuat siapa pun sepenuhnya aman. Tidak ada alat yang bisa berjanji seperti itu, dan yang menjanjikannya sedang berbohong, atau sedang menjual sesuatu. Yang bisa dijanjikan hanya ini. Setiap pertanyaan filsafat di atas tidak berhenti jadi wacana. Ia dipaksa turun jadi arsitektur, jadi baris kode, jadi tombol yang bisa diklik warga biasa hari ini, bukan jadi paragraf indah di halaman kebijakan yang tidak pernah dibaca siapa pun.
Riwayat hidup digital Anda tetap milik Anda. Bukan karena hukum mengizinkannya, tapi karena tidak ada pihak lain yang berhak mengambilnya tanpa izin sejak awal. Kami cuma membantu Anda membacanya lebih dulu, sebelum orang lain membacanya tanpa izin.
Tulisan ini merujuk gagasan dari sumber berikut, bukan mengutipnya secara langsung. Disusun untuk pembaca yang mau menelusuri lebih jauh:
Sebuah inisiatif dalam kerangka riset digital humanities, didukung oleh Digital Humanities Indonesia.